Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan

July, 2018

now browsing by month

 

Pendaftaran Mahasiswa Baru FKIP Unismuh Palu 2018/2019

Ada yang belum daftar juga nih?

Daftar yuk buruan…. Ayo rama-ramai jadi mahasiswa FKIP Unismuh Palu,
Bisa dapat ilmu untuk jadi calon guru yang baik, bisa jalan-jalan ke luar Sulawesi, bahkan ke luar negeri…

Kapan lagi bisa kuliah sambil having fun? Sekarang waktunya!

Prodi yang ada di FKIP Unismuh Palu:
1. Pendidikan Bahasa Inggris
2. Pendidikan Luar Sekolah
3. Pendidikan Guru PAUD

Hubungi CP Fika Omolu untuk informasi lebih lanjut di 08121470149
Atau datang langsung ke kampus Unismuh Palu,
Jl. Hang Tuah No.114 Palu.
Butuh guide untuk mendaftar? Hubungi CP ya….

BROSUR BACK PAGE
BROSUR FRONT PAGE

FKIP Unismuh Palu dalam Cultural Camp in Bangkok, Thailand

Akhir Juni lalu, Dora Akfin Rahadian, salah satu mahasiswa FKIP Universitas Muhammadiyah Palu, Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris baru saja kembali dari kemah pertukaran budaya di Bangkok Thailand. Walailak University Cultural Camp (WUCC) merupakan kegiatan kemah budaya yang diadakan oleh pihak Walailak University di provinsi Nakhon Si Thammarat dan Bangkok Thailand. Kegiatan ini diadakan untuk saling mempromosikan adat dan budaya antar negara dari 160 peserta internasional yang terpilih serta menjadi relawan dalam kegiatan yang ada. Kegiatan WUCC kali ini merupakan kegiatan kemah budaya yang kedua kalinya dengan tema “In Honour of HRH Princess Chulabhorn Walailak: Cultures without Borders.

Untuk bisa menjadi peserta dari Kemah Budaya ini, para pendaftar diwajibkan mengikuti seleksi mulai dari pengisian formulir dan juga data-data yang mencakup surat rekomendasi dari dekan, transkip nilai, paspor, foto profil, surat keterangan sehat, mampu berbahasa Inggris dengan baik, dan tidak berumur lebih dari 30 tahun. Disamping itu, diwajibkan untuk membuat tulisan esai sebanyak 600-1000 kata dengan topik “What is your view on cultures without borders in the globalized world?”. Dora Akfin Rahadian berhasil lolos dan menjadi satu-satunya peserta dari Sulawesi Tengah serta menjadi salah satu dari 7 orang partisipan dari Indonesia. Prestasi ini patut dibanggakan karena tidak saja membawa harum nama Universitas, Dora juga telah menunjukkan eksistensi almamaternya lewat kemampuannya berbahasa Inggris.

Kegiatan yang dilaksanakan selama sembilan hari, yakni dari tanggal 16 – 23 Juni 2018 ini bertempat di provinsi Nakhon Si Thammarat, Thailand. Dalam kegiatan ini, terdapat lebih dari 750 pendaftar internasional dari 300 universitas, 50 negara, dan 5 benua diseluruh dunia, tetapi hanya 160 peserta saja yang terpilih yaitu 100 peserta Non-Thai dan 60 peserta Thai yang berasal dari Walailak University. 100 peserta Non-Thai yang terpilih berasal dari berbagai negara seperti Afganistan, Afrika, Albania, Amerika, Banglades, Kamboja, Cina, Kolombia, Mesir, Filipina, Prancis, Hungaria, India, Indonesia, Iran, Rusia, Sri Langka, Taiwan, Timur Leste, Ukraina, dan Vietnam. Tujuh orang peserta dari Indonesia, tiga di antaranya berasal dari Perguruan Tinggi Muhamamdiyah:

– Desy Hafidhotul Ilmi dari Universitas Diponegoro
Dora Akfin Rahadian dari Universitas Muhammadiyah Palu
Hanum Shirotu nida dari Universitas Muhammadiyah Malang
– Hesti Prawati dari Institut Teknologi Bandung
– Imanuela Ella dari Universitas Diponegoro
– Riza Suryandari dari Universitas Gajah Mada
Virginia Dwiki dari Universitas Muhammadiyah Malang

Nah, untuk kamu yang masih ragu bergabung dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah, jangan ragu lagi ya… Segera Daftarkan diri ke Universitas Muhammadiyah Palu, mau lebih spesifik lagi supaya jago bahasa Inggris seperti Dora? Masuk ke Prodi Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Universitas Muhammadiyah Palu dong.. Percaya diri nambah, kemampuan bahasa Inggris berkembang, dan kamu bisa jalan-jalan ke luar negeri mengikuti berbagai program Internasional yang disediakan kampus. Ayo, tunggu apa lagi? 

SEBERAT BESI DAN SERINGAN KAPAS

Pemenang Lomba Menulis Pendidikan
FKIP Unismuh Palu 2018
Dora Akfin Rahadian (Mahasiswa sem VI Prodi Pendidikan Bahasa Inggris)

Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia terutama dalam memenuhi kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) serta pengembangan suatu bangsa dan negara. Fenomena yang tidak bisa dipungkiri bahwa dunia semakin berkembang, dengan adanya era globalisasi yang menuntut persaingan dalam setiap bidang yang salah satunya dalam bidang pendidikan. Kualitas suatu negara dapat dilihat dari kualitas pendidikan yang ada di negara tersebut, dengan pendidikan yang baik tentunya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten dalam bidangnya yang nantinya dapat mengubah suatu kondisi bangsa untuk terus mengalami perbaikan dengan adanya penerus-penerus bangsa yang terdidik.
Membahas mengenai pendidikan, Sulawesi Tengah merupakan provinsi yang masuk dalam urutan ke-27 dari 36 Provinsi di Indonesia secara nasional berdasarkan mutu pendidikannya. Mutu pendidikan yang merupakan kesesuaian kebutuhan tiap-tiap sekolah dalam mengelola aspek-aspek yang ada, baik dalam aspek tenaga pengajar, standar pengajaran, maupun aspek lainnya dan merupakan poin utama yang menjadi acuhan dalam menghasilkan generasi yang bermutu. Sebab itulah mutu pendidikan tiap sekolah sangatlah dianggap penting dalam menentukan kualitas sekolah tersebut.
Rendahnya mutu pendidikan dapat dilihat juga dari tenaga pengajar yang ada. Seperti yang telah kita ketahui bahwa tenaga pengajar di kota jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan tenaga pengajar yang ada di desa, bahkan pengajar di desa masih banyak yang hanya lulusan SMA, ini juga tentunya menjadi hal yang perlu dipertimbangkan. Secara tidak langsung, dapat diketahui bahwa kualitas pendidikan di kota jauh lebih baik dibandingkan dengan di desa. Namun, hal ini justru membangkitkan semangat para pemuda yang ada khususnya di kota Palu untuk berkontribusi dan menyebarkan energi positif dalam bidang pendidikan di daerah-daerah yang dipandang sebelah mata atau bahkan tidak terpandang sekalipun.
Sekolah Alam Dongi-dongi contohnya, merupakan salah satu sekolah alam yang terletak di desa Tongoa dusun IV Dongi-dongi kecamatan Palolo Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Sekolah ini didirikan oleh salah satu pemuda asli Sulawesi Tengah atas dasar keprihatinan dunia pendidikan bernama Stenli Gilbert pada tanggal 20 November 2015. Stenli Gilbert merupakan satu-satunya orang di desanya yang menempuh pendidikan hingga memiliki gelar sarjana dan dia merupakan satu-satunya orang yang pertama memiliki gelar sarjana di kampungnya, sekarang dia sedang melanjutkan studinya di Universitas Tadulako Palu. Didirikannya sekolah ini, karena rasa pedulinya terhadap anak-anak yang jika ingin menempuh sekolah formal terdekat harus menempuh perjalanan sejauh 4 km serta keterbatasan tenaga pengajar di sekolah formal. Hal ini menjadi salah satu faktor banyak anak-anak tidak semangat bersekolah sehingga dengan adanya sekolah alam yang ada, anak-anak bisa belajar membaca, menulis, dan berhitung dan juga belajar seni tradisional di sore hari setelelah paginya mereka menempuh pendidikan di sekolah formal.
Sikola Pomore, yang memiliki arti sekolah bermain dalam bahasa kaili ini juga merupakan sekolah non formal yang didirikan oleh Yaumil Masri atas dasar cinta pendidikan dan keprihatinan pada pendidikan yang ada di Sulawesi Tengah khususnya di bagian desa yang terpencil yang tidak terlihat oleh pemerintah setempat. Sikola Pomore yang merupakan sekolah alam berbasis bahasa Inggris ini terletak di desa Dampal kecamatan Sirenja. anak-anak di desa tersebut akan belajar di Sekolah Pomore disore hari setelah paginya mereka juga bersekolah di sekolah formal yang ada. Disana, anak-anak diajarkan belajar melewati alam dengan menggunakan bahasa Inggris. Hal ini seharusnya menjadi pukulan bagi pemerintah setempat bahwa pendidikan di daerah ini kurang, bahwa pendidikan kita butuh perhatian yang lebih, yang tidak jauh beda dengan pendidikan-pendidikan ditempat lain.
Dengan adanya beberapa gerakan pemuda membentuk suatu lingkup atau tempat untuk berbagi energi positif dalam bidang pendidikan, sudah cukup sedikit mencerminkan bahwa pendidikan di kota Palu masih sangat belum merata, bahkan sekolah-sekolah di kota semakin terfasilitasi dan sekolah di desa semakin tertinggal. Sebagian pemuda yang menuntut pendidikan di kota hingga lulus, mereka tidak ingin kembali ke desa melainkan menjadi tenaga pengajar di kota sehingga desanya semakin sulit berkembang. Dalam hal ini, pemerintah harusnya lebih dapat memperhatikan pembagian ataupun penyebaran tenaga pendidik ke bagian pelosok-pelosok Sulawesi Tengah, karena seperti yang kita ketahui bahwa Sulawesi Tengah bukan hanya milik kota Palu.
Pendidikan di Sulawesi Tengah ibarat seberat besi dan seringan kapas, dimana proses pendidikan di kota sangatlah berat seperti besi, berat dalam arti terfasilitasi lebih baik dari segi tenaga pengajar, media, dan fasilitas lainnya. Sedangkan pendidikan di pelosok Sulawesi Tengah, bagaikan seringan kapas yang berarti kurang terpandang, kurang tenaga pengajar, kurang perhatian, kurang sentuhan, serba kekurangan yang entah kapan akan berkembang.
Semua orang bisa menjadi guru, tetapi tidak semua orang bisa menjadi pengajar yang baik, ini juga merupakan hal penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah dalam menyeleksi tenaga pendidik yang baik untuk Sulawesi Tengah. Pendidikan yang baik akan didapatkan dari tenaga pendidik yang baik dan juga profesional bukan sekedar dari orang yang menyandang gelar pendidikan saja. Belum terlalu berkembangnya pendidikan di Sulawesi Tengah juga dapat dilihat dari sudut pandang umumnya seperti ketika dalam kompetisi lomba-lomba cerdas cermat atau olimpiade, kemauan siswa sangatlah kurang, mereka kurang berantusias dalam mengikuti kegiatan tersebut kecuali beberapa sekolah ternama. Hal ini bisa jadi karena ilmu yang mereka terima tidak begitu mencukupi dan bisa jadi juga karena fasilitas sekolah yang kurang memadai. Meskipun demikian, Sulawesi Tengah juga berhak mendapatkan pendidikan yang merata, pendidikan yang sama seperti yang lainnya dari segi apapun yang dapat menunjang kualitas dalam pendidikan itu. Tanpa adanya perubahan, pendidikan di Sulawesi Tengah akan sangat sulit berkembang dan bersaing dengan yang lain. Dalam hal ini, bersaing Sumber Daya Manusia akan pendidikannya.
Seperti yang kita ketahui bahwa kita selalu memperingati tanggal 2 Mei setiap tahunnya sebagai hari pendidikan nasional, di mana hari pendidikan ini merupakan hari yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia untuk memperingati hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara sebagai tokoh pelopor pendidikan Indonesia. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan yang ada si Sulawesi Tengah sebenarnya belumlah merata, masih banyak yang harus dibenahi dari segi internal maupun eksternal. Dari segi internal, merupakan tindak kejujuran masing-masing pihak sekolah terhadap tanggung jawab mereka dalam menjadi seorang pendidik, dsedangkan dari segi eksternalnya merupakan dari peran pemerintah yang harus lebih memperhatikan seluruh sekolah yang ada di Sulawesi Tengah baik di kota maupun di pelosok, peran orang tua sebagai orang yang terdekat dengan siswa, serta peran individu masing-masing dari siswa yang memegang penuh tanggung jawab itu. Itulah sebabnya, pendidikan mempunyai cakupan yang luas, dimana pendidikan memiliki hubungan yang berkesinambungan antara satu sama lain.

© 2018: FKIP Unismuh Palu | Easy Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress