Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan

APA YANG KELIRU?


Pemenang Lomba Menulis Pendidikan
FKIP Unismuh Palu 2018
Siti Rohmatullah (Mahasiswa sem VII Prodi Pendidikan Bahasa Inggris)

Menduduki peringkat ke 27 dari 36 provinsi se Indonesia adalah hasil pemetaan dan gambaran kualitas pendidikan di Sulawesi Tengah pada tahun 2017. Mengutip pernyataan Mantan Kepala Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Sulteng, bahwa di tahun 2015 Sulawesi Tengah berada di urutan ke 29 dari 34 provinsi se Indonesia berdasarkan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG). Hal ini menunjukan bahwa, kualitas pendidikan di Sulawesi Tengah tiap tahunnya tidak mengalami pergerakan yang signifikan. Kualitas pendidikan suatu daerah dipengaruhi oleh berbagai hal diantaranya, letak dan kondisi goeografis daerah, budaya, ekonomi, dan juga politik. Empat hal inilah yang menurut sebagian orang menjadi penghambat suatu kualitas pendidikan.

Namun ada beberapa hal yang terlupakan, kualitas pendidikan bukan hanya terletak pada empat hal tersebut. Pemerataan pendidik yang berkompeten adalah sala satu kunci kualitas sebuah pendidikan. Bagaimana tidak? Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa pendidik yang berkompeten biasanya hanya ditugaskan di daerah tertentu saja, daerah yang notabene penduduknya sudah paham atau melek akan pentingnya pendidikan itu sendiri, sehingga daerah terpencil lainya hanya mendapat sisanya saja. Bukan hanya pembagian tenaga pendidik yang tidak merata melainkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan itu sendiri yang masih menjadi PR bagi pemerintah. Beberapa daerah di pinggiran kota Palu saja misalkan, yang tentu saja masih dapat terjangkau kaki oleh pemerintah, masih banyak anak-anak yang tidak bersekolah bukan karena orang tuanya tidak mampu, namun kesadaran dari anak dan orang tua mereka yang minim akan pentingnya pendidikan untuk masa depan mereka kelak. Padahal pemerintah mencanangkan wajib belajar 9 tahun, namun hal ini bukan hal istimewa bagi sebagian orang. Beberapa program pemerintah juga sedang diganyangkan mulai dari pendidikan gratis, buku gratis, bahkan ada beberapa sekolah yang menggratiskan seragam sekolah untuk siswa-siswinya. Namun hal itu tidak juga mendorong kualitas pendidikan di Sulawesi Tengah membaik.

Anak-anak yang putus sekolah inilah yang nantinya akan menjadi momok menyeramkan untuk kehidupan mereka sendiri, bahkan mungkin juga untuk pemerintah. Lihat saja contoh nyata yang baru-baru ini sedang booming di kota kelor kita ini. Anak-anak seusia 14 atau 15 tahunan mem-begal bahkan ada yang nekat membobol masuk ke rumah warga untuk mengambil barang yang bukan hak mereka, dan mirisnya mereka harus berakhir tragis. Jika ditilik dari akar masalah, pasti masyarakat akan mempertanyakan latar belakang keluarga, lingkungan, dan pendidikan mereka. Apapun yang dilakukan orang saat ini, semua pasti akan melibatkan pendidikan sebagai pondasi terbentuknya mental dan karakter seseorang. Jangan salah dan jangan marah jika ada yang bilang orang yang tidak berpendidikan adalah mereka yang tidak bermental dan berkarakter. Memang benar tidak semua orang yang berpendidikan bermental dan berkarakter baik dan tidak juga keliru mereka yang tidak berpendidikan atau tidak pernah mengenyam bangku sekolah memiliki mental dan karakter buruk. Namun, yang benar adalah pendidikan membentuk mental dan karakter seseorang.

Mari kita berkaca dan bandingkan, di era 1990-an hingga awal 2000-an, ketika pendidikan masih berbayar dan dapat dikatakan cukup mahal, yah walaupun sampai sekarang anggapan beberapa orang, pendididkan masih mahal. Namun mental siswa-siswi dulu berbeda dengan sekarang. Dulu orang tua siswa tidak pernah protes atau marah ketika anaknya di hukum karena kesalahannya sendiri, namun sekarang? Pendidik yang berani “menyentuh” siswanya pasti akan berhadapan langsung dengan orang tua bahkan ada yang tidak segan untuk mempolisikan seorang pendidik jika memang mereka ingin. Apa yang keliru? Apa mungkin pendidik dan orang tua zaman sekarang sama-sama keliru, pendidik keliru, karena menganggap pendidikan tidak akan pernah berubah, dan orang tua keliru menganggap pendidik akan berubah mengikuti zaman.

Ranah pendidikan menjadi tempat yang sensitif sekarang ini, coba saja tanya ke pendidik zaman sekarang mengenai bagaimana mereka kesulitan menyesuaikan dengan segala kebijakan baru pemerintah, kemauan orang tua, bahkan mereka sampai “lupa” mendidik anak sendiri karena kewajiban mereka mendidik anak orang. Kurang baik kah itu? Lalu, apa yang keliru? Kenapa pendidikan kita masih jauh tertinggal dari yang lain? Memang benar hal ini tidak hanya dihadapi oleh kota kita saja, namun mirisnya kita masuk di urutan terbelakang. Oh ayolah, kita bisa jauh lebih baik dari provinsi lain. Lalu, dengan apa dan bagaimana? Generasi penerus yang sadar yang harus banyak berperan. Siapakah generasi penerus itu? Siapa lagi? Yah kita, kita yang harus sadar.

Maju atau mundurnya kualitas pendidikan suatu daerah bergantung juga pada generasinya, anak mudanya, penerusnya. Bagaimana tidak, pemerintah adalah sasaran empuk dipojokan, disalahkan, bahkan dikambing hitamkan oleh semua pihak yang merasa kecewa tentang buruknya atau gagalnya pendidikan di suatu daerah. Lalu peran kita sebagai generasi penerus apa? Ikut menyalahkan, padahal kita bisa membantu? Ikut memojokkan, padahal kita mampu berusaha bersama? Karena ini adalah tanggung jawab kita semua, bukan lagi pemerintah, bukan lagi orang tua siswa, apa lagi siswanya. Sudah banyak pemuda yang sadar akan kewajibannya, kewajiban membagi ilmu yang pernah didapatkan, kewajiban menyadarkan anak-anak untuk tetap bersekolah, kewajiban membantu pemerintah menumpas kebodohan, walau banyak di antara mereka harus mengeluarkan dana pribadi bahkan mencari donatur untuk setiap kegiatan mulia mereka. Yah, walaupun kadang ada saja yang memandang kegiatan mereka sebelah mata namun keberadaan generasi seperi ini patut diapresiasi.

Di kota Palu sendiri sudah sangat banyak organisasi pemuda-pemudi yang bergerak di bidang pedidikan. Contohnya saja Sikola Pomore, Mosikola, 1000 Guru Sulteng, Cinta Tanpa Batas dan masih banyak lagi yang lain. Mereka adalah perkumpulan pemuda-pemudi yang peduli dengan anak-anak pelosok dan ingin membagikan sedikit ilmu, harta, dan juga tenaga mereka agar pendidikan ini lebih baik. Namun kepedulian mereka belumlah cukup, belum cukup untuk membuat pendidikan di Sulawesi Tengah ini maju. Tidak usah bicara maju, setidaknya tidak tertinggal. Bagaimana agar tidak tertinggal? Cukup sadar saja, sadar kalau pendidikan dan masa depan kota tercinta kita ini adalah tanggung jawab kita bersama. Jadi tidak ada lagi yang akan bertanya, apa yang keliru dengan kota kita? Apa yang keliru dengan pemerintah kita? Apa yang keliru dengan pendidikan kita? Apa sebenarnya yang keliru? Setelah semua pihak sadar akan tanggung jawab masing-masing mengenai pentingnya pendidikan, maka jawaban yang lantang pun patut kita suarakan. “Tidak, tidak ada lagi yang keliru, kami semua sadar dan kami semua bertanggung jawab.” Maka kunci dari kualitas pendidikan di Sulawesi Tengah ini adalah kesadaran dan tanggung jawab dari seluruh pihak. Selama pihak ini dan itu hanya bisa menuntut dan menyalahkan, maka pendidikan di Sulawesi Tengah ini akan tetap keliru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

© 2018: FKIP Unismuh Palu | Easy Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress