Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan

Fakultas Keguruan dan Ilmu Kependidikan

artikel

now browsing by category

 

SEBERAT BESI DAN SERINGAN KAPAS

Pemenang Lomba Menulis Pendidikan
FKIP Unismuh Palu 2018
Dora Akfin Rahadian (Mahasiswa sem VI Prodi Pendidikan Bahasa Inggris)

Pendidikan merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi manusia terutama dalam memenuhi kebutuhan Sumber Daya Manusia (SDM) serta pengembangan suatu bangsa dan negara. Fenomena yang tidak bisa dipungkiri bahwa dunia semakin berkembang, dengan adanya era globalisasi yang menuntut persaingan dalam setiap bidang yang salah satunya dalam bidang pendidikan. Kualitas suatu negara dapat dilihat dari kualitas pendidikan yang ada di negara tersebut, dengan pendidikan yang baik tentunya akan melahirkan generasi penerus bangsa yang cerdas dan kompeten dalam bidangnya yang nantinya dapat mengubah suatu kondisi bangsa untuk terus mengalami perbaikan dengan adanya penerus-penerus bangsa yang terdidik.
Membahas mengenai pendidikan, Sulawesi Tengah merupakan provinsi yang masuk dalam urutan ke-27 dari 36 Provinsi di Indonesia secara nasional berdasarkan mutu pendidikannya. Mutu pendidikan yang merupakan kesesuaian kebutuhan tiap-tiap sekolah dalam mengelola aspek-aspek yang ada, baik dalam aspek tenaga pengajar, standar pengajaran, maupun aspek lainnya dan merupakan poin utama yang menjadi acuhan dalam menghasilkan generasi yang bermutu. Sebab itulah mutu pendidikan tiap sekolah sangatlah dianggap penting dalam menentukan kualitas sekolah tersebut.
Rendahnya mutu pendidikan dapat dilihat juga dari tenaga pengajar yang ada. Seperti yang telah kita ketahui bahwa tenaga pengajar di kota jumlahnya lebih banyak dibandingkan dengan tenaga pengajar yang ada di desa, bahkan pengajar di desa masih banyak yang hanya lulusan SMA, ini juga tentunya menjadi hal yang perlu dipertimbangkan. Secara tidak langsung, dapat diketahui bahwa kualitas pendidikan di kota jauh lebih baik dibandingkan dengan di desa. Namun, hal ini justru membangkitkan semangat para pemuda yang ada khususnya di kota Palu untuk berkontribusi dan menyebarkan energi positif dalam bidang pendidikan di daerah-daerah yang dipandang sebelah mata atau bahkan tidak terpandang sekalipun.
Sekolah Alam Dongi-dongi contohnya, merupakan salah satu sekolah alam yang terletak di desa Tongoa dusun IV Dongi-dongi kecamatan Palolo Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Sekolah ini didirikan oleh salah satu pemuda asli Sulawesi Tengah atas dasar keprihatinan dunia pendidikan bernama Stenli Gilbert pada tanggal 20 November 2015. Stenli Gilbert merupakan satu-satunya orang di desanya yang menempuh pendidikan hingga memiliki gelar sarjana dan dia merupakan satu-satunya orang yang pertama memiliki gelar sarjana di kampungnya, sekarang dia sedang melanjutkan studinya di Universitas Tadulako Palu. Didirikannya sekolah ini, karena rasa pedulinya terhadap anak-anak yang jika ingin menempuh sekolah formal terdekat harus menempuh perjalanan sejauh 4 km serta keterbatasan tenaga pengajar di sekolah formal. Hal ini menjadi salah satu faktor banyak anak-anak tidak semangat bersekolah sehingga dengan adanya sekolah alam yang ada, anak-anak bisa belajar membaca, menulis, dan berhitung dan juga belajar seni tradisional di sore hari setelelah paginya mereka menempuh pendidikan di sekolah formal.
Sikola Pomore, yang memiliki arti sekolah bermain dalam bahasa kaili ini juga merupakan sekolah non formal yang didirikan oleh Yaumil Masri atas dasar cinta pendidikan dan keprihatinan pada pendidikan yang ada di Sulawesi Tengah khususnya di bagian desa yang terpencil yang tidak terlihat oleh pemerintah setempat. Sikola Pomore yang merupakan sekolah alam berbasis bahasa Inggris ini terletak di desa Dampal kecamatan Sirenja. anak-anak di desa tersebut akan belajar di Sekolah Pomore disore hari setelah paginya mereka juga bersekolah di sekolah formal yang ada. Disana, anak-anak diajarkan belajar melewati alam dengan menggunakan bahasa Inggris. Hal ini seharusnya menjadi pukulan bagi pemerintah setempat bahwa pendidikan di daerah ini kurang, bahwa pendidikan kita butuh perhatian yang lebih, yang tidak jauh beda dengan pendidikan-pendidikan ditempat lain.
Dengan adanya beberapa gerakan pemuda membentuk suatu lingkup atau tempat untuk berbagi energi positif dalam bidang pendidikan, sudah cukup sedikit mencerminkan bahwa pendidikan di kota Palu masih sangat belum merata, bahkan sekolah-sekolah di kota semakin terfasilitasi dan sekolah di desa semakin tertinggal. Sebagian pemuda yang menuntut pendidikan di kota hingga lulus, mereka tidak ingin kembali ke desa melainkan menjadi tenaga pengajar di kota sehingga desanya semakin sulit berkembang. Dalam hal ini, pemerintah harusnya lebih dapat memperhatikan pembagian ataupun penyebaran tenaga pendidik ke bagian pelosok-pelosok Sulawesi Tengah, karena seperti yang kita ketahui bahwa Sulawesi Tengah bukan hanya milik kota Palu.
Pendidikan di Sulawesi Tengah ibarat seberat besi dan seringan kapas, dimana proses pendidikan di kota sangatlah berat seperti besi, berat dalam arti terfasilitasi lebih baik dari segi tenaga pengajar, media, dan fasilitas lainnya. Sedangkan pendidikan di pelosok Sulawesi Tengah, bagaikan seringan kapas yang berarti kurang terpandang, kurang tenaga pengajar, kurang perhatian, kurang sentuhan, serba kekurangan yang entah kapan akan berkembang.
Semua orang bisa menjadi guru, tetapi tidak semua orang bisa menjadi pengajar yang baik, ini juga merupakan hal penting yang harus diperhatikan oleh pemerintah dalam menyeleksi tenaga pendidik yang baik untuk Sulawesi Tengah. Pendidikan yang baik akan didapatkan dari tenaga pendidik yang baik dan juga profesional bukan sekedar dari orang yang menyandang gelar pendidikan saja. Belum terlalu berkembangnya pendidikan di Sulawesi Tengah juga dapat dilihat dari sudut pandang umumnya seperti ketika dalam kompetisi lomba-lomba cerdas cermat atau olimpiade, kemauan siswa sangatlah kurang, mereka kurang berantusias dalam mengikuti kegiatan tersebut kecuali beberapa sekolah ternama. Hal ini bisa jadi karena ilmu yang mereka terima tidak begitu mencukupi dan bisa jadi juga karena fasilitas sekolah yang kurang memadai. Meskipun demikian, Sulawesi Tengah juga berhak mendapatkan pendidikan yang merata, pendidikan yang sama seperti yang lainnya dari segi apapun yang dapat menunjang kualitas dalam pendidikan itu. Tanpa adanya perubahan, pendidikan di Sulawesi Tengah akan sangat sulit berkembang dan bersaing dengan yang lain. Dalam hal ini, bersaing Sumber Daya Manusia akan pendidikannya.
Seperti yang kita ketahui bahwa kita selalu memperingati tanggal 2 Mei setiap tahunnya sebagai hari pendidikan nasional, di mana hari pendidikan ini merupakan hari yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia untuk memperingati hari kelahiran Ki Hadjar Dewantara sebagai tokoh pelopor pendidikan Indonesia. Namun, tidak bisa dipungkiri bahwa pendidikan yang ada si Sulawesi Tengah sebenarnya belumlah merata, masih banyak yang harus dibenahi dari segi internal maupun eksternal. Dari segi internal, merupakan tindak kejujuran masing-masing pihak sekolah terhadap tanggung jawab mereka dalam menjadi seorang pendidik, dsedangkan dari segi eksternalnya merupakan dari peran pemerintah yang harus lebih memperhatikan seluruh sekolah yang ada di Sulawesi Tengah baik di kota maupun di pelosok, peran orang tua sebagai orang yang terdekat dengan siswa, serta peran individu masing-masing dari siswa yang memegang penuh tanggung jawab itu. Itulah sebabnya, pendidikan mempunyai cakupan yang luas, dimana pendidikan memiliki hubungan yang berkesinambungan antara satu sama lain.

APA YANG KELIRU?


Pemenang Lomba Menulis Pendidikan
FKIP Unismuh Palu 2018
Siti Rohmatullah (Mahasiswa sem VII Prodi Pendidikan Bahasa Inggris)

Menduduki peringkat ke 27 dari 36 provinsi se Indonesia adalah hasil pemetaan dan gambaran kualitas pendidikan di Sulawesi Tengah pada tahun 2017. Mengutip pernyataan Mantan Kepala Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Sulteng, bahwa di tahun 2015 Sulawesi Tengah berada di urutan ke 29 dari 34 provinsi se Indonesia berdasarkan hasil Uji Kompetensi Guru (UKG). Hal ini menunjukan bahwa, kualitas pendidikan di Sulawesi Tengah tiap tahunnya tidak mengalami pergerakan yang signifikan. Kualitas pendidikan suatu daerah dipengaruhi oleh berbagai hal diantaranya, letak dan kondisi goeografis daerah, budaya, ekonomi, dan juga politik. Empat hal inilah yang menurut sebagian orang menjadi penghambat suatu kualitas pendidikan.

Namun ada beberapa hal yang terlupakan, kualitas pendidikan bukan hanya terletak pada empat hal tersebut. Pemerataan pendidik yang berkompeten adalah sala satu kunci kualitas sebuah pendidikan. Bagaimana tidak? Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa pendidik yang berkompeten biasanya hanya ditugaskan di daerah tertentu saja, daerah yang notabene penduduknya sudah paham atau melek akan pentingnya pendidikan itu sendiri, sehingga daerah terpencil lainya hanya mendapat sisanya saja. Bukan hanya pembagian tenaga pendidik yang tidak merata melainkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan itu sendiri yang masih menjadi PR bagi pemerintah. Beberapa daerah di pinggiran kota Palu saja misalkan, yang tentu saja masih dapat terjangkau kaki oleh pemerintah, masih banyak anak-anak yang tidak bersekolah bukan karena orang tuanya tidak mampu, namun kesadaran dari anak dan orang tua mereka yang minim akan pentingnya pendidikan untuk masa depan mereka kelak. Padahal pemerintah mencanangkan wajib belajar 9 tahun, namun hal ini bukan hal istimewa bagi sebagian orang. Beberapa program pemerintah juga sedang diganyangkan mulai dari pendidikan gratis, buku gratis, bahkan ada beberapa sekolah yang menggratiskan seragam sekolah untuk siswa-siswinya. Namun hal itu tidak juga mendorong kualitas pendidikan di Sulawesi Tengah membaik.

Anak-anak yang putus sekolah inilah yang nantinya akan menjadi momok menyeramkan untuk kehidupan mereka sendiri, bahkan mungkin juga untuk pemerintah. Lihat saja contoh nyata yang baru-baru ini sedang booming di kota kelor kita ini. Anak-anak seusia 14 atau 15 tahunan mem-begal bahkan ada yang nekat membobol masuk ke rumah warga untuk mengambil barang yang bukan hak mereka, dan mirisnya mereka harus berakhir tragis. Jika ditilik dari akar masalah, pasti masyarakat akan mempertanyakan latar belakang keluarga, lingkungan, dan pendidikan mereka. Apapun yang dilakukan orang saat ini, semua pasti akan melibatkan pendidikan sebagai pondasi terbentuknya mental dan karakter seseorang. Jangan salah dan jangan marah jika ada yang bilang orang yang tidak berpendidikan adalah mereka yang tidak bermental dan berkarakter. Memang benar tidak semua orang yang berpendidikan bermental dan berkarakter baik dan tidak juga keliru mereka yang tidak berpendidikan atau tidak pernah mengenyam bangku sekolah memiliki mental dan karakter buruk. Namun, yang benar adalah pendidikan membentuk mental dan karakter seseorang.

Mari kita berkaca dan bandingkan, di era 1990-an hingga awal 2000-an, ketika pendidikan masih berbayar dan dapat dikatakan cukup mahal, yah walaupun sampai sekarang anggapan beberapa orang, pendididkan masih mahal. Namun mental siswa-siswi dulu berbeda dengan sekarang. Dulu orang tua siswa tidak pernah protes atau marah ketika anaknya di hukum karena kesalahannya sendiri, namun sekarang? Pendidik yang berani “menyentuh” siswanya pasti akan berhadapan langsung dengan orang tua bahkan ada yang tidak segan untuk mempolisikan seorang pendidik jika memang mereka ingin. Apa yang keliru? Apa mungkin pendidik dan orang tua zaman sekarang sama-sama keliru, pendidik keliru, karena menganggap pendidikan tidak akan pernah berubah, dan orang tua keliru menganggap pendidik akan berubah mengikuti zaman.

Ranah pendidikan menjadi tempat yang sensitif sekarang ini, coba saja tanya ke pendidik zaman sekarang mengenai bagaimana mereka kesulitan menyesuaikan dengan segala kebijakan baru pemerintah, kemauan orang tua, bahkan mereka sampai “lupa” mendidik anak sendiri karena kewajiban mereka mendidik anak orang. Kurang baik kah itu? Lalu, apa yang keliru? Kenapa pendidikan kita masih jauh tertinggal dari yang lain? Memang benar hal ini tidak hanya dihadapi oleh kota kita saja, namun mirisnya kita masuk di urutan terbelakang. Oh ayolah, kita bisa jauh lebih baik dari provinsi lain. Lalu, dengan apa dan bagaimana? Generasi penerus yang sadar yang harus banyak berperan. Siapakah generasi penerus itu? Siapa lagi? Yah kita, kita yang harus sadar.

Maju atau mundurnya kualitas pendidikan suatu daerah bergantung juga pada generasinya, anak mudanya, penerusnya. Bagaimana tidak, pemerintah adalah sasaran empuk dipojokan, disalahkan, bahkan dikambing hitamkan oleh semua pihak yang merasa kecewa tentang buruknya atau gagalnya pendidikan di suatu daerah. Lalu peran kita sebagai generasi penerus apa? Ikut menyalahkan, padahal kita bisa membantu? Ikut memojokkan, padahal kita mampu berusaha bersama? Karena ini adalah tanggung jawab kita semua, bukan lagi pemerintah, bukan lagi orang tua siswa, apa lagi siswanya. Sudah banyak pemuda yang sadar akan kewajibannya, kewajiban membagi ilmu yang pernah didapatkan, kewajiban menyadarkan anak-anak untuk tetap bersekolah, kewajiban membantu pemerintah menumpas kebodohan, walau banyak di antara mereka harus mengeluarkan dana pribadi bahkan mencari donatur untuk setiap kegiatan mulia mereka. Yah, walaupun kadang ada saja yang memandang kegiatan mereka sebelah mata namun keberadaan generasi seperi ini patut diapresiasi.

Di kota Palu sendiri sudah sangat banyak organisasi pemuda-pemudi yang bergerak di bidang pedidikan. Contohnya saja Sikola Pomore, Mosikola, 1000 Guru Sulteng, Cinta Tanpa Batas dan masih banyak lagi yang lain. Mereka adalah perkumpulan pemuda-pemudi yang peduli dengan anak-anak pelosok dan ingin membagikan sedikit ilmu, harta, dan juga tenaga mereka agar pendidikan ini lebih baik. Namun kepedulian mereka belumlah cukup, belum cukup untuk membuat pendidikan di Sulawesi Tengah ini maju. Tidak usah bicara maju, setidaknya tidak tertinggal. Bagaimana agar tidak tertinggal? Cukup sadar saja, sadar kalau pendidikan dan masa depan kota tercinta kita ini adalah tanggung jawab kita bersama. Jadi tidak ada lagi yang akan bertanya, apa yang keliru dengan kota kita? Apa yang keliru dengan pemerintah kita? Apa yang keliru dengan pendidikan kita? Apa sebenarnya yang keliru? Setelah semua pihak sadar akan tanggung jawab masing-masing mengenai pentingnya pendidikan, maka jawaban yang lantang pun patut kita suarakan. “Tidak, tidak ada lagi yang keliru, kami semua sadar dan kami semua bertanggung jawab.” Maka kunci dari kualitas pendidikan di Sulawesi Tengah ini adalah kesadaran dan tanggung jawab dari seluruh pihak. Selama pihak ini dan itu hanya bisa menuntut dan menyalahkan, maka pendidikan di Sulawesi Tengah ini akan tetap keliru.

Pentingnya Andil Pemerintah terhadap Sistem Pendidikan di Sulawesi Tengah

Pemenang Lomba Menulis Pendidikan
FKIP Unismuh Palu 2018
Nursakinah (Mahasiswa Semester VI Prodi Pend. B. Inggris)

Sudah menjadi rahasia umum bahwa setiap orang membutuhkan pendidikan. Setiap orang berhak mendapatkan pendidikan yang layak tak peduli apapun suku, agama, bahkan ras. Pendidikan bukanlah suatu hal yang baru bagi kita. Kata “pendidikan” tak terdengar asing lagi bagi sebagian besar kalangan, khususnya saya selaku penulis. Banyak orang yang mengatakan bahwa perlu dan pentingnya pendidikan dalam hidup mereka. Mengapa demikian? Ya, karena sejatinya pendidikan  memang memiliki peran penting dalam hidup manusia itu sendiri. Melalui pendidikan seseorang dapat meningkatkan wawasannya, pendidikan dapat mengubah pola pikir seseorang, pendidikan dapat mengangkat status sosial seseorang serta pendidikan merupakan salah satu jalan menuju sukses.

Mengapa pendidikan menempati salah satu tempat yang bisa dijadikan pijakan sebagai jalan menuju sukses? karena, melihat dari kenyataan yang ada tak dapat dipungkiri lagi bahwa orang – orang yang telah berjaya atau sukses itu memiliki latar belakang pendidikan yang baik. Namun, tidak ada jaminan yang dapat menjamin bahwa hanya orang yang berlatar belakang pendidikan yang baiklah, yang bisa menginjakan kakinya ditangga kesuksesan. Ya, seperti yang saya katakan sebelumnya bahwa pendidikan hanya merupakan salah satu jalan menuju sukses, itu berarti pendidikan bukan jalan utama yang dapat di tempuh untuk menuju sukses. Kenapa ? karena faktanya ada orang – orang tertentu yang dapat mengecap manisnya kesuksesan dalam hidupnya, yang dari segi pendidikannya bisa dikatakan tak seberuntung orang lain yang dapat menamatkan pendidikan mereka hingga ke jenjang perkuliahan. Ada yang hanya tamatan SMP bahkan ada yang tamatan SD tapi, mereka bisa sukses tentunya atas kerja keras mereka. Bagi saya pendidikan tetaplah menempati posisi nomor satu tidak bisa disepelekan, entah itu wanita ataupun lelaki berhak mendapatkan pendidikan yang baik. Sama halnya dengan lelaki, wanita juga berhak menempuh pendidikan yang diinginkan. Wanita yang berpendidikan akan memiliki pola pikir yang baik, membangun wanita untuk berpendidikan yang baik berarti membangun peradaban yang baik.

Masih berbicara mengenai topik yang sama, pendidikan mempunyai dua elemen penting yang hingga kini tak bisa dipisahkan antara satu sama lain, apalagi kalau bukan guru dan siswa. Tidak dapat dipungkiri bahwa benar adanya guru dan siswa memainkan peranan yang begitu penting untuk menjalankan roda pendidikan itu sendiri. Peran guru dapat terealisasi apabila ada siswa sebagai pelengkapnya dalam proses pembelajaran.

Selama proses pembelajaran berlangsung, baik guru maupun siswa dituntut untuk bisa saling  melengkapi satu sama lain, dapat berinteraksi dengan baik, serta kedua elemen ini harus dapat bekerja sama dengan baik untuk satu tujuan yang dinamakan pendidikan. Apalah arti guru tanpa siswa, begitupun sebaliknya. Tidaklah mudah untuk memperoleh pendidikan yang diinginkan melainkan harus dengan kerja keras, agar terwujud pendidikan yang diinginkan.   

Berbicara mengenai pendidikan, khususnya pendidikan di kota ini yang dominan masyarakatnya menyebut dengan tanah kaili, ya apalagi kalau bukan kota Palu, Sulawesi Tengah. Apa yang terlintas dibenak kalian mengenai sistem pendidikan di Sulawesi Tengah? let’s think, sudah baikkah pendidikan di Sulawesi Tengah, atau sebaliknya ? Mantan Kepala Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) Sulteng, Abdul Halim Muharram pernah mengklaim bahwa kualitas pendidikan di Sulteng seharusnya bisa ditingkatkan lagi. Itu artinya kualitas pendidikan di Sulteng bisa kita katakan masih rendah, dikarenakan perlu adanya peningkatan lagi, bukan? Lantas, apakah yang menjadi penyebabnya? menurut saya, hal-hal tersebut disebabkan oleh beberapa faktor, pertama masih kurangnya kualifikasi guru, masih adanya guru Sekolah Dasar yang hanya mengantongi ijazah SMA. Seperti yang saya ketahui, bahwa untuk menjadi tenaga pengajar setidaknya seorang guru telah menempuh jenjang pendidikan Strata 1 (S1). Perlunya lagi pertimbangan untuk menyeleksi kembali calon-calon guru yang dapat memenuhi kualifikasi sehingga dapat meningkatkan kualitas mereka. Faktor kedua, para guru yang telah memenuhi kualifikasi seharusnya tidak hanya dapat diberdayakan di kota atau kabupaten saja, melainkan juga dapat diberdayakan di daerah-daerah yang memang membutuhkan tenaga pengajar seperti desa-desa, tentunya juga harus memiliki kualifikasi yang baik. Ya, perlu adanya pemerataan guru baik di kota maupun di desa. Selanjutnya, masih minimnya sarana dan prasarana yang terdapat di desa-desa yang tidak dapat menunjang kinerja para guru. Kurangnya sarana dan prasarana di suatu sekolah tentunya akan memiliki dampak pada guru serta siswa yang akan melaksanakan kegiatan belajar mengajar. Mereka merasa kesulitan dengan minimnya hal tersebut, sehingga mereka bisa saja terhambat dalam proses pembelajaran bahkan tertinggal jauh dari guru-guru yang berada di kota. Faktor terakhir, tapi tak kalah pentingnya adalah akses untuk menuju sekolah. Ya, guru yang mengajar diperkotaan dan kabupaten agaknya tak terlalu memusingkan hal ini, karena akses di kota maupun kabupaten bisa dikatakan mudah untuk dilalui, tidak perlu berjam-jam untuk seorang guru pergi mengajar dikarenakan pembangunan jalan yang sudah terbilang baik. Namun, bagaimana dengan mereka yang berada di desa, yang masih kesulitan untuk mengakses sekolah ? hal ini terjadi karena kurangnya perhatian pemerintah terhadap sekolah-sekolah yang berada di pedesaan. Sudah sepatutnya akses jalan mereka diperbaiki sehingga dapat memudahkan mereka untuk mengakses jalan menuju sekolah. Baik guru maupun siswa tidak perlu lagi untuk menghabiskan banyak waktu sekedar untuk berangkat ke sekolah. Mereka tidak perlu lagi melewati jalanan becek yang membuat seragam sekolah mereka berlumpur, mereka tidak perlu lagi melewati jalanan yang belum beraspal yang membuat seragam mereka berdebu, dan mereka tidak perlu lagi menyeberangi sungai yang membuat seragam mereka basah kuyup. Agaknya hal-hal inilah yang seharusnya mendapatkan perhatian khusus dari pemerintah.

Untuk itu, kedepannya harapan saya sebatas menginginkan kepada pemerintah mohon untuk  tidak menutup mata akan hal ini. Bukan tanpa sebab, jika faktor-faktor tersebut dapat teratasi dengan baik, bukan tidak mungkin  sistem pendidikan di Sulteng akan menjadi lebih baik. Bukan tidak mungkin generasi selanjutnya dapat bersekolah di tempat yang pendidikannya telah baik. Seorang anak didik yang dibentuk dengan latar belakang pendidikan yang baik, maka akan menghasilkan anak didik yang baik pula dalam kehidupannya. Tidak ada satu pun orang tua yang tidak menginginkan anaknya untuk dapat mengenyam pendidikan  yang layak dan baik, bukan? Bukanlah suatu hal yang aneh bahwa setiap orang tua menyekolahkan anak mereka dengan harapan agar kelak anak-anak mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi generasi anak bangsa yang baik, cerdas serta berbudi pekerti luhur.  Dengan harapan anak-anak mereka dapat menjadi panutan yang baik kelak, serta dapat berbakti kepada agama, bangsa serta negaranya kelak. Inilah yang masih menjadi cita-cita kita bersama juga menjadi cita-cita mulia dari setiap orang tua terhadap anak mereka sehingga kelak dapat terwujud pendidikan yang diinginkan, pendidikan yang layak, pendidikan yang baik, pendidikan yang setiap anak dapat menimbah ilmu tanpa kurangnya suatu apapun. Maka, sangat perlunya andil dari pemerintah untuk dapat merealisasikan hal-hal tersebut.

International Pre-Service Teacher Training

Grab the chance, Do not be the viewers only!

Maybe this line should be built in every English Education Study Program Students to motivate them in taking every chance given. Just like what Dora Akfin (Rara) and Susriani (Sri) experienced, Semester VI Students who just followed a students exchange program in Malaysia. They spent their one month (End of February to End of March) by teaching in an elementary school in Malaysia under the partnership with Universitas Muhammadiyah Purwokerto and Universiti Teknologi Malaysia (UTM).
Rara and Sri learned a lot of things from this program, having friends from other country and university, assisting teacher in class, interacting with school staffs, even they had the chance to go to Singapore as a part of the program held by UTM. At the end of the program, they perfomed the traditional song of Kaili (the tribe in Sulawesi Tengah), wearing traditional clothes.
So, students, what are you waiting for?

© 2018: FKIP Unismuh Palu | Easy Theme by: D5 Creation | Powered by: WordPress